Halaman

Rabu, 28 November 2012

Sejarah Kamojang

Sejarah ini merupakan penggabungan penggalan cerita dari para tokoh masyarakat pada saat itu, dan pernah mengalami kejadian-kejadian yang terjadi di sekitar Kamojang. Satu diantaranya yang ingin ditampilkan adalah tokoh yang sarat dengan penghargaan dari Pemerintah Kabupaten Bandung maupun Pemerintah Jawa Barat juga Nasional. Adalah sosok Bapak H. Adjin bin Suwardi, beliau adalah tokoh perikanan, juga sosok yang mendapatkan penghargaan yaitu kategori Pengabdi Lingkungan Tingkat Nasional  (Kalpataru) Tahun 1991.
Inilah riwayat Kampung Danau Pateungteung Pangkalan versi beliau.

SEJARAH PERKEMBANGAN KAMPUNG PANGKALAN

Zaman Penjajahan Colonial Belanda sampai Akhir Tahun 1942

Asal nama kampung Kamojang

Nama kampung Kamojang pada waktu itu adalah kampung Dano Pateungteung Pangkalan wilayah Desa Cibeet Kecamatan Paseh Kewedanaan Cicalengka Kabupaten Bandung, dan sekarang kampung Kamojang berada di Wilayah Desa Laksana Kecamatan Ibun Kabupaten Bandung.

Kampung Pangkalan

Kampung Pangkalan dipimpin oleh kepala kampung yang bernama Bapak Muhdi  (alm.). Ketua RT Bapak Muhamad Tawami (alm.) dengan penghuni Kampung Pangkalan kurang lebih sebanyak 30 kepala keluarga atau 120 penduduk, dengan fasilitas dan sarana yang ada antara lain, 30 buah rumah, 1 masjid Jamie. 2 tajug, 4 warung nasi dan pernah ada pondok pesantren yang di pimpin oleh Ajengan Idris.
Kekayaan kampung Pangkalan, terdiri dari kolam perikanan seluas kurang lebih 80 ha mulai dari 0,2 ha per kolam sampai ada yang 5 dan 10 ha. Tanah petanian darat kurang lebih 10 ha untuk tanaman sayur mayur, akar wangi dan tembakau.  Tanah pengangonan milik desa seluas 33 ha (berbatasan dengan TWA BKSDA Jabar 11). Tanah lapang kurang lebih 5 ha dan yang dikenal oleh masyarakat dengan tanah militer.
Mata pencaharian penduduk kampung Kamojang pada waktu itu mengandalkan hasil perikanan dengan ikan peliharaan seperti ikan Mas, Nilem, Gurame, dan Mujaer.
Ikan Runcah Liar seperti Rarong (Udang Kecil), Ucung Paray, Lele, Bogo dan belut. Hasil pertanian berupa kentang, ubi jalar, tembakau, akar wangi, jagung dan lain lain. Hasil peternakan yaitu: ternak sapi, kerbau, dan domba yang dimiliki oleh masyarakat yaitu 10 ekor kerbau, 20 ekor domba dan 100 ekor sapi. Selain yang dimiliki oleh masyarakat sendiri, banyak juga yang menitipkan dari luar desa bahkan dari luar kecamatan, seperti dari Rancaekek dan dari daerah Garut, biasanya mereka mendapat imbalan musiman berupa padi kepada penduduk. Sebagian penduduk membantu sebagai petunjuk jalan dan menjual hasil pertanian kepada Wisatawan Manca Negara.

Selain di kampung Pangkalan, ada juga di daerah kawah 5 buah rumah penduduk untuk malayani yang berobat penyakit kulit dengan cara mandi dengan air panas yang mengandung belerang, pada saat waktu itu belum ada Puskesmas.

Pembatasan Kampung Pangkalan

Kampung Pangkalan berbatasan dengan Desa Sukarasa dan Desa Parakan Kecamatan Samarang Kabupaten Garut, yaitu Kampung Legok Pulus ke Desa
Sukarasa dan Kampung Cikaleang ke Parakan.
Antara Kampung Legok Pulus dan Pangkalan berdiri satu buah hotel yang bernama Hotel Kamojang (Grand Hotel), pemiliknya Tuan Hack warga negara Jerman dan istrinya warga negara Belanda.
Pecah perang Dunia II Tuan Hack ditangkap oleh Pemerintah Belanda, kemudian Hotelnya dikelola istrinya sampai saat Belanda menyerah kepada tentara Jepang.
Fasilitas Hotel tersebut terdiri dari:
a.  Penginapan,
b.  Pemandian air panas, dan
c.  Mandi lumpur tanah kawah. Tamu yang datang ke tempat pemandian lumpur kawah tersebut dengan cara membalurkan tanah kawah ke badan mereka lalu berjemur diterik panasnya matahari setelah cukup lama mereka berjemur lalu dibersihkan di kolam renang air dingin.
d.  Kunjungan ke kawah, melihat-lihat pengeboran explorasi yang namanya disebut dengan Stum, karena dulu tenaga uap itu bisa dibunyikan setiap ada wisatawan Manca Negara.  Kira-kira bentuk Stum yaitu kran penutup uap, pembuangan uap memakai Hatong dan pembuangan sehari-hari.
Selain melihat hasil pengeboran juga melihat kawah yang telah diberi tanda (nama) antara lain Kawah Manuk, Kawah Hujan, Kawah Kendang dan Kawah Beureum.
e.  Ada sebuah bangunan yang di namakan Loji yang merupakan tempat untuk istirahat tamu sebelum kunjungan, mengisi buku tamu dan memberikan tips/sumbangan untuk Desa Cibeet.
f.   Hotel menyediakan beberapa ekor kuda untuk meninjau ke Danau Ciharus atau  Curug Malayang.
g.  Ada tempat berkemah di Pangangonan sebagian ada yang khusus dipelihara oleh petugas hotel yang biasa memelihara. Jalan di Samarang dibuat portal khusus untuk kendaraan wisatawan.

Masa Penjajahan Jepang

Pada masa penjajahan tentara Jepang, masyarakat Indonesia pada umumnya sangat menderita, Jepang sedang berperang dengan tentara sekutu (Amerika, Ingris, Belanda).  Penderitaan rakyat diantaranya:

Rakyat itu diwajibkan menjual hasil pertanian dan ternaknya kepada pemerintah Jepang dengan harga yang cukup murah terutama padi.

Keadaan sandang sangat sulit, di kampung-kampung rakyat banyak yang menderita busung lapar, berpakaian tidak layak, kaum wanita di daerah pedesaan ada yang pakai kain dari bahan karet, bahkan ada yang dari karung goni.

Kaum laki-laki diwajibkan Kerja Paksa (Romusa) yang menyebabkan banyak yang meninggal di tempat kerjaannya.

Masyarakat kamojang sedikit beruntung karena tidak mengalami Romusa keluar daerah, tapi diwajibkan mengambil serat tereptep disekitar hutan-hutan Kamojang.

Setelah tentara Jepang hampir menderita kekalahan, didesa-desa dibentuk Keibudan untuk orang dewasa, Semendai untuk para pemuda dan Punjikai untuk para wanita. Mereka yang terbentuk dalam Keibudan dan Semendai dilatih baris berbaris dan dilatih perang-perangan, sementara untuk kaum wanitanya yang terbentuk dalam Punjikai dilatih untuk pertolongan pertama pada kecelakaan. Sedangkan dipusat dibentuk Pembela Tanah Air (PETA) dari mulai pimpinan tertinggi sampai prajurit semua dari bangsa Indonesia. Pasukan PETA merupakan cikal bakal pasukan inti dalam perlawanan terhadap tentara Belanda bahkan terhadap tentara Jepang untuk merebut persenjataan.

Di bekas Hotel kamojang dan di Kampung Kamojang ada pendudukan tentara Jepang, untuk membuat terowongan dan lubang-lubang perlindungan, dibukit-bukit sekitar Kamojang sampai ke Danau Ciharus dikerjakan oleh Romusa dari luar daerah tapi tidak sampai selesai dikarenakan Jepang kalah perang.

Bekas Hotel Kamojang setelah ditinggalkan tentara Jepang dipelihara oleh bekas pegawai (karyawan) hotel dan dibawah pengawasan pemerintahan setempat.

Kamojang pada Masa Mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia dari Penjajahan Tentara Belanda.

Kampung Kamojang pada masa perjuangan mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia sekitar pada tahun 1945 sampai dengan tahun 1950, setelah pemerintah Belanda menyerahkan kedaulatan kepada pemerintah Republik Indonesia, disini dibagi 4 periode, yaitu:

Periode pertama antara tahun 1945 sampai tahun 1950

a.  Setelah tentara Belanda mengadakan serangan umum untuk menguasai wilayah Jawa Barat, Kamojang menjadi pertahanan terakhir. Tentara Siliwangi dan para pejuang mundur meninggalkan kota menuju daerah pegunungan untuk mengadakan perlawanan dengan perang gerilya. Pasukan Divisi Siliwangi yang mundur melalui Kamojang dari Bataliyon Garuda Hitam yang dipimpin oleh Bapak Mayor Rifai dan Bataliyon Pager Jaya yang dipimpin oleh Komandan Bataliyon Bapak Mayor Abdurahman, dan terus menyebar ke daerah-daerah kantong perjuangan, yang menetap di Kamojang dari Bataliyon Pager Jaya lebih kurang dari satu peleton yang dipimpin oleh Bapak Letnan Suhanta.
b.  Setelah pasukan Divisi Siliwangi meninggalkan Jawa Barat hijrah ke Yogyakarta, Kamojang ditempati oleh tentara dan para pejuang yang tidak ikut hijrah, diantaranya dari Brigade Citarum, di Kamojang dipimpin oleh Bapak R. Awa Surya Dilaga sedangkan di Siniung Desa Dukuh dipimpin oleh Bapak Kapten Anang Sujana. Setelah merdeka Bapak R. Awa Surya Dilaga dinas di POMDAM Siliwangi berpangkat Letnan, Bapak Anang Sujana berpangkat Kolonel 1 Kodam Vl Siliwangi di Kodam laya sampai pensiun.
c.  Setelah Yogyakarta diserang lagi oleh tentara Belanda, pasukan dari Siliwangi kembali ke Jawa Barat untuk melanjutkan lagi perjuangan, diantaranya yang menetap di Kamojang sebagian yaitu dari Bataliyon Daeng yang dipimpin oleh Bapak Kapten Sitorus, untuk membuat Pos Komando untuk para pejuang yang tidak ikut hijrah bergabung dengan pasukan TNI kecuali Gerombolan DI/TII.
d.  Pada waktu itu, TNI yang ada di Kamojang selain menghadapi tentara Belanda yang bermarkas di Ibun juga menghadapi Gerombolan DI/TII. Di daerah Cidadali dan sekitarnya Pertengahan tahun 1949 tentara Belanda mengadakan serangan ke Kamojang yang datang dari arah Garut dan dari jurusan Ibun. Jam 06.00 Kamojang sudah dikepung oleh baret Hijau Tentara Belanda, semua laki-laki yang tertangkap dikumpulkan disatu tempat lalu diperiksa satu persatu untuk menunjukkan keberadaan TNI di Kamojang, dan kebetulan ada TNI dari kesatuan lain yang tertangkap oleh tentara Belanda sebanyak 5 orang, lalu diperiksa dihadapan rakyat yang sedang ditahan sambil disiksa sampai akhirnya dibunuh, rumah Kepala Kampung dibakar oleh tentara Belanda.
e.  Pada serangan kedua kalinya rakyat Kamojang ada yang ditangkap oleh tentara
     Belanda sebanyak 9 orang lalu dibunuh, ada diantaranya sesepuh Kamojang yaitu Bapak Suwardi. Setelah kejadian tersebut, oleh Bapak Kapten Sitorus masyarakat Kamojang dianjurkan supaya mengungsi ke daerah yang dianggap aman. Pasukan TNI meninggalkan Kamojang pindah ke Pameungpeuk. Sepeninggal pasukan ini Kamojang dikuasai oleh Gerombolan DI, rumah-rumah dibakar, harta benda yang ditinggalkan seperti temak sapi, ikan dan lain-lain dijarahnya. Kampung Kamojang ditinggalkan kurang lebih selama 12 tahun.


Periode kedua antara tahun 1950 sampai tahun 1962 setelah dibawah  Pemerintahan Republik Indonesia

a.  Pemerintah Indonesia dibawah Pimpinan Presiden Ir. Soekarno mulai mengadakan pembangunan di berbagai sektor, seperti dibidang politik, ekonomi, sosial budaya dan pendidikan. Hasilnya sudah nampak kemajuan yang dapat dirasakan oleh masyarakat pada umumnya kecuali dibidang keamanan karena masih ada gangguan pemberontakan dari Gerombolan DI/TII terutama didaerah pedesaan banyak rumah-rumah yang dibakar, harta bendanya dijarah, tidak sedikit rakyat yang jadi korban sehingga banyak yang mengungsi ke daerah lain.
b.  Antara tahun 1961/1962 Panglima Siliwangi dibawah pimpinan Bapak Ibrahim Adji, mengadakan operasi besar-besaran untuk memberantas Gerombolan DI/TII dengan sistem pagar betisnya, Gerombolan sudah banyak yang menyerahkan diri, dan akhirnya oleh Pimpinan tertinggi Sukarmaji Karto Suwiryo, Gerombolan tertangkap menyerah kepada kompi II Bataliyon 328 Kujang Siliwangi dipimpin oleh Bapak Kapten Suhanda didaerah Gunung Geber dekat Danau Ciharus, setelah itu keadaan Jawa Barat aman.
c.  Setelah keadaan aman, masyarakat yang mengungsi ke kota kembali ke kampung halamannya diantaranya masyarakat Kamojang.

Periode ketiga antara 1962 sampai tahun 1970
Masa pembangunan kampung-kampung yang pernah ditinggalkan, seperti masyarakat Kamojang yang kembali dari pengungsiannya mulai membangun kembali kampungnya dengan mendapat bantuan dari:

a.  Pemerintah Kabupaten Bandung, berupa bahan kebutuhan hidup untuk selama 4 bulan, seperti beras, ikan asin, gula dan lain-iain. Juga alat-alat pertanian, seperti cangkul, garpu dan benih sayur mayur.
b.  Bantuan tenaga dari Kodam VI Siliwangi setelah Gerombolan menyerah, diantaranya satu bataliyon 327 Badak Putih Siliwangi, Komandan Bataliyonnya Bapak Mayor Simamora dibantu oleh COP Sipil dan dinas-dinas seperti dinas pertanian 2 orang, dinas perikanan 2 orang, dinas peternakan 1 orang, dinas kehutanan 1 orang, pekerjaan umum 2 orang dan dari bagian jalan dan pengairan ditambah dari kepolisian 1 orang dari sektor Kecamatan Paseh. 1 orang anggota Koramil Kecamatan Paseh. 1 orang Polisi Pamong Praja dan 2 orang Bintara Intelejen sebagai pengawas dari later Intel Banjaran, satu Peleton Zeni Tempur Siliwangi.
Operasi Bakti Siliwangi selama 4 bulan maksudnya untuk membantu masyarakat yang baru dari pengungsian, untuk membangun halamannya diberbagai bidang, diantanya:
1.  Tenaga manusia untuk membantu dan membuat gubug darurat untuk tempat tinggal penduduk, membuat jalan, membersihkan saluran pengairan, membuat jembatan, membuat tempat ibadah, dan lain-lain bersama masyarakat.
2.  Memberikan penyuluhan kepada masyarakat dibidang keamanan, pertanian, perikanan, peternakan, dan perkebunan.
3.  Bantuan dari Kodam Siliwangi, selain bantuan tenaga juga memberikan bantuan benih ikan sebanyak 45.000 ekor ikan nila dan ikan mas melalui dinas perikanan Kabupaten Bandung dan bantuan ternak domba sebanyak 50 ekor dan kuda 8 ekor melalui dinas peternakan Kabupaten Bandung.
4.  Pada waktu Oparesi Bakti sedang berjalan, pernah ada kunjungan Kepala Staf Gabungan Angkatan Bersenjata Amerika Serikat didampingi Panglima Siliwangi Bapak Ibrahim Adji dengan 2 helikopter mendarat di Kamojang untuk meninjau keberhasilan Siliwangi dalam menumpas Gerombolan pengacau dengan sistem Pager Betis. Masyarakat dari daerah Garut dan Bandung melimpah untuk menyaksikan kedatangan.

Periode Keempat Aantara Tahun 1970 sampai Proyek Pertamina PLN Berjalan tahun 2003

Masyarakat Kamojang sejak kembali dari daerah pengungsian sudah mulai merasakan dari hasil usahanya antara lain:
a.  Dari bidang pertanian sudah bisa menjual kentang, ubi jalar, kol dan sayur mayur lainnya.
b.  Dari bidang perikanan sudah bisa menghasilkan ikan antara 250-500 Kg/ha/tahun, walaupun  pemeliharaannya masih tradisional belum intensif.
c.  Bidang peternakan sudah berkembang bahkan sudah bisa mengembalikan/menggulirkan kepada petani yang lainnya sebanyak 50 ekor melalui Dinas Peternakan Kecamatan Paseh.
d.  Sudah bisa membangun rumah walaupun sederhana, membangun sarana ibadah, dan sebuah bangunan SD.
e.  Mengembangkan usaha lainnya seperti membuka warung untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Kebutuhan rakyat itu tidak terlepas dari pembinaan dan bimbingan dari dinas terkait seperti dinas pertanian, peternakan, perikanan. Kamojang tetap mendapat perhatian dari para pejabat pemerintah baik sipil maupun militer, mungkin ada keterkaitan pada masa sejarah perjuangan dan mempunyai potensi untuk pengembangan daerah dengan gunung berapi kawah Kamojang dan Danau Ciharus.

Para pejabat yang sering mengunjungi Kamojang dari Pemda Kabupaten, mulai dari Bapak Kolonel Masturi, Bapak Bupati Kolonel H. Lili Soemantri dan  Bupati penerus lainnya. Dari Pemda Propinsi Bapak Gubernur Solihin GP dan para anggota DPR, dan Kodim 0609 Bandung Bapak Dandim, Bapak Husen Wangsa Atmaja dan lain-lain. Kunjungan tersebut mungkin sambil memantau hasil pembangunan.

PENGARUH PERKEMBANGAN KAMPUNG KAMOJANG

Pengaruh Kearah Kebaikan (Dampak Positif)
Antara tahun 1970 sudah ada petugas dari Dinas Geologi untuk pemetaan masalah Kamojang dan Survey Gunung Berapi oleh ahli gunung berapi dari Selandia Baru. Setelah selesai pemetaan wilayah Kamojang dan Survey Gunung Berapi dilanjutkan pengeboran pertama/explorasi di Cisurian oleh ahli Gunung Berapi dari Selandia Baru, rakyat Kamojang sudah ada yang ikut bekerja.

Pada pembukaan pengeboran pertama, disaksikan oleh pimpinan Pertamina Pusat Bapak Jendral Pur. Ibnu Sutowo, Bapak Mentri Pertambangan, Gubernur Jawa Barat Bapak Solihin GP, Bupati Bandung Bapak Kolonel H. Lili Soemantri dan para tamu undangan lainnya. Pengeboran produksi selanjutnya dilaksanakan oleh Pertamina, setelah berhasil pengeboran dilanjutkan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi yang pertama di Indonesia, lokasimya di Cisurian.

Setelah proyek Pertamina dan PLN berjalan, kemajuan masyarakat Kamojang semakin meningkat karena rakyatnya sebagian besar bekerja menjadi karyawan baik di Pertamina maupun di PLN, ada juga yang membuka peluang usaha-usaha lainnya seperti rumah makan, warung dan lainnya.

Kami warga Kamojang bersyukur dan berterima kasih kepada Pimpinan Proyek Pertamina dan PLN sektor Kamojang karena mereka telah peduli untuk membantu meningkatkan pembangunan Kampung Kamojang berupa: Pembangunan SD Kamojang, Gelanggang Olahraga, Lapangan Sepak bola, sarana ibadah yang begitu megah, modal usaha kecil, memberikan pelatihan bidang pertanian dan lain-lain. Kemudian pada tahun 2003 membangun pengerasan jalan yang ada di perkampungan.

Pengaruh Kearah Keburukan (Dampak Negatif)
Kolam yang diarahfungsikan ternyata hasilnya tidak maksimal bila dibandingkan dengan hasil perikanan. Yang menjadi sebab tidak berfungsinya kolam tersebut mulanya adalah selokan (sungai) Cipangasahan dari sebelah timur mulai mengalami pendangkalan, air yang mengandung belerang masuk ke kolam ikan di Siangar sehingga menimbulkan banyaknya korban ikan yang pada mati. Kemudian dari saluran bagian barat dengan keadaan hutan yang rusak akibat dari pembuatan akses jalan untuk proyek sehingga saluran tidak bisa menampung air, sehingga airnya melimpah ke kolam-kolam.

Sejak saluran air baik dari bagian Timur Cipangasahan dan bagian Barat kolam-kolam tidak dipelihara karena banjir, menimbulkan beberapa mata air yang nasibnya sampai saat ini sangat merana dan ada yang sudah hilang terkubur oleh endapan lumpur tanah dari bekas pengeboran yang dibuang kemana saja khususnya di Kawasan Kamojang ada terdapat 8 (delapan) sumber mata air yaitu:
 1. Mata air Danau Ciharus
2. Mata air Leuweung Leutik
3. Mata air Cipateung-teung dan Salang Gerang
4. Mata air Pamoyanan
5. Mata air Dano Antanan
6. Mata air Citeureup
7. Mata air Cibeunying      
8. Mata air Rancang.

Mata air Leuweung Leutik (hutan lindung) ditukar dengan tanah di daerah Balong Tegal oleh Bapak Kepala Desa R H. Hadis, Leuweung Leutik dijual kepada penduduk dan dijadikan pemukiman. Pada saat ini keluarnya air dari mata air sudah berkurang karena keadaan hutan disekelilingnya rusak bahkan ada yang jadi tanah garapan.

Hutan-hutan disekeliling Kamojang dan daerah lain sudah sangat memprihatinkan setelah terjadinya krisis ekonomi mungkin untuk sementara merasa beruntung karena bisa menggarap tanah kehutanan dengan mudah, pasir melimpah bisa dijual bebas, akan tetapi untuk daerah bawah sudah mulai terasa akibatnya, bila turun hujan terjadi banjir yang membawa lumpur, bila tidak turun hujanpun akan langsung kekurangan air.  Bila penggarapan tidak terkendali, mungkin beberapa tahun yang akan datang dirasakan oleh kita semua akibatnya.

HARAPAN MASARAKAT KAMOJANG

Dengan latar belakang sejarah singkat dari nara sumber yang mengalami kondisi 3 zaman, kita mencoba dan berupaya dengan segala kemampuan mencari peluang dengan pihak-pihak yang berkepentingan termasuk pembuatan "Yayasan Forum Komunikasi Peduli Lingkungan Masyarakat Ibun" (Akte terlampir).

Dan memohon kepada kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Jawa Barat adanya pengalokasian untuk Reboisasi di Kawasan Cagar Alam Kamojang. Dan Alhamdullillah pada tahun anggaran 2002 dan 2003 di Kawasan Cagar Alam Kamojang mendapat alokasi dana untuk Reboisasi kurang lebih 1.325 ha.

Dengan adanya hari Air Sedunia, di Wilayah Kamojang masih ada Sumber Mata Air dan Situ yang belum di kelola secara profesional, mengingat begitu pentingnya akan Air bagi kehidupan manusia dan alam semesta ini. Mata air yang ada di Situ Ciharus kurang lebih debit airnya 50 ltr/detik, ini baru satu titik bagaimana kalau 8 titik dimaksimalkan untuk mencukupi kebutuhan Air di Majalaya dan sekitarnya.

Akan lebih bermanfaat kiranya program Pemerintah Kabupaten Bandung maupun Propinsi Jawa Barat untuk pemanfaatan potensi Sumber Daya Alam ini jika melihat dengan kasat mata potensi Kamojang sangat potensial untuk dikembangkan mengingat beberapa faktor sebagai indikator keberhasilan:
1. Sarana jalan cukup baik dan tembus ke Wilayah Kabupaten Garut.
2. Agro Wisata cukup dengan rekayasa teknologi melalui pemanfaatan gas buang dari Geothermal Energi dengan budidaya jamur sampinyon dan penataan Danau Ciharus sebagai Kawasan Wisata Alam.
3. Wisata Ilmiah dengan melibatkan Indonesia Power dan Pertamina sebagai objek kunjungan dengan menghasilkan Energi Lisbik Tenaga Uap yeng memiliki daya 250 MGH dan pertama di Indonesia.

Dengan penuh rasa tanggung jawab kami sebagai generasi muda, merasa perlu untuk menyampaikan informasi ini kepada pihak-pihak yeng berkepentingan dan rekan-rekan seperjuangan yang mengabdi untuk lingkungan. Mari kita galang rasa persaudaraan kita melalui karya nyata tanpa menyalahkan orang lain.

Mudah-mudah dengan tulisan yang kami sampaikan bukan untuk menyombongkan diri akan tetap timbul dari hati nurani yang paling dalam untuk mengingatkan bagi yang lupa pentingnya Alam Raya ini kita jaga dan pelihara.

Saksi yang masih hidup diantaranya adalah Bapak Dana.

Ibun, Januari 2011
Sekretaris YFKPL
Memet Moch Rachmat

Admin Rumah Informasi Kamojang

Jumat, 23 November 2012

Berwisata ke Kawah Kamojang

Ada beberapa pilihan tempat wisata yang tesedia di kecamatan ibun, diantaranya adalah curug madi, kawah kamojang, dan danau ciharus. Tempat-tempat yang ditawarkan disini berbaur dengan alam, sangat cocok bagi kalian yang suka dengan alam bebas.

Agar kalian gak penasaran seperti apa sih panorama-panorama tempat wisata disini, yuk kita baca uraiannya satu persatu.

Kawah Kamojang untuk kesehatan

Kawah Kamojang merupakan kawah yang terbentuk dari letusan gunung merapi, selain menjadi objek wisata yang ramai dikunjungi orang-orang untuk menikmati pemandangannya yang indah, biasanya kawah kamojang juga dijadikan pengobatan alternatif bagi pengunjung, karena air dan uapnya yang mengandung belerang dan bisa mengobati berbagai macam penyakit, salah satunya penyakit kulit. Uniknya orang-orang selalu memanfaatkan airnya yang panas untuk merebus telur, ubi, dan makanan sejenisnya.

Terdapat jenis-jenis kawah yang bisa dinikmati, diantaranya:

· Kawah manuk

· Kawah hujan (gejolak air kawah menyembur seperti hujan dan terasa dingin)

· Kawah berecek

· Kawah kereta api (semburan gas/uap mengeluarkan bunyi seperti kereta api).

Di tempat wisata Kawah Kamojang juga terdapat pemandian air panas yang berbentuk kamar mandi, sangat nyaman loh. Kita bisa memanjakan diri kita dengan cara berendam air panas.

Bukan hanya itu di kawah hujan kita juga dapat melakukan mandi uap atau sauna di kawah hujan, sesudah mandi uap (sauna) kita akan merasakan kenikmatan dan kesegaran pada  badan kita. Badan kita yang tadinya loyo akan terasa bersemangat kembali dan dapat membersihkan kotoran-kotoran nakal yang nempel di kulit tubuh sehingga membuat kulit di tubuh kita menjadi sehat.

Jalan yang ditempuh untuk berkunjung ketempat wisata Kawah Kamojang sangatlah mudah, karena aksesnya yang tidak terlalu rumit bisa dilewati kendaraan roda dua maupun roda empat, hanya sekitar 3 km dari kampung kamojang.

Untuk informasi lebih lanjut tentang Kawah Kamojang kunjungi website www.ibun.web.id.

Admin Rumah Informasi Kamojang

Liburan Di Curug


Curug Madi

mungkin kalian sudah tidak asing lagi mendengar kata curug/air terjun, pasti yang ada di benak kalian adalah pemandagan yang indah dengan tumpahan air dari ketinggian tebing- tebing batu serta suasana yang sangat sejuk dengan pemandangan alam bebas dan alami. Sama halnya dengan curug yang berada di kecamatan Ibun kabupaten Bandung ini, yaitu curug madi, mempunyai pemandangan yang tak kalah menakjubkan.

Menikmati gemercik air Curug Madi yang mengalir lembut






Jalan yang dilalui untuk menuju Curug madi


Curug madi merupakan curug yang berada di Patrol,paseh yang terdapat dibawah tanjakan Monteng kira-kira 3km dari tanjakan Monteng. Tempat wisata yang satu ini wajib banget kalian kunjungi, soalnya tempatnya keren banget. meskipun aksesnya yang sulit buat di lewati, tapi bagi yang suka hiking cocok banget deh trek nya soalnya jalan yang kita lewati untuk menuju ke curug madi hanya bisa di tempuh dengan cara jalan kaki.


Gak banyak sih orang yang tau tempat ini, meskipun capek menempuh jarak yang lumayan jauh, tapi di perjalanan kita disuguhkan pemandangan yang indah, suasana pegunungan yang asri, serta pesawahan yang hijau, dan sesampainya di curug kita bisa menikmati jernihnya air terjun yang mengalir lembut dan tinggi air terjunnya mencapai 7m, rasa cape yang kita rasakan pasti akan hilang dengan sekejap.









Tumpahan air yang  mengalir lembut dengan suasana alam yang masih alami dan asri, batu-batu yang masih licin karena jarang dikunjungi.

Admin Rumah Informasi Kamojang